NADAYUDHA,SULUT-Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, menegaskan ketersediaan beras Sulut aman hingga Maret 2026 berkat kebijakan strategis pemerintah, termasuk Gerakan Pangan Murah dan penyaluran beras cadangan.
Yulius Selvanus, Gubernur Sulawesi Utara, memastikan stok beras di wilayahnya dalam kondisi aman dan mencukupi hingga Maret 2026. Kepastian ini disampaikan saat ia menghadiri Gerakan Tanam Padi di Kabupaten Bolaang Mongondow.
Kondisi pasokan beras yang stabil ini merupakan hasil dari berbagai kebijakan strategis pemerintah daerah. Langkah-langkah tersebut mencakup pelaksanaan Gerakan Pangan Murah dan penyaluran beras cadangan.
Upaya ini bertujuan untuk mengantisipasi potensi inflasi bahan pokok, terutama di tengah kondisi cuaca ekstrem yang mungkin terjadi. Hal ini juga untuk menjaga daya beli masyarakat di Sulut.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara secara konsisten menerapkan kebijakan untuk menjamin stabilitas pasokan beras. Gerakan Pangan Murah rutin digelar, dan beras cadangan pemerintah juga disalurkan kepada masyarakat.
Langkah-langkah ini sangat krusial, khususnya dalam menghadapi momen-momen besar seperti Hari Raya Natal dan Tahun Baru. Ketersediaan beras yang cukup membantu menekan gejolak harga di pasaran.
Berdasarkan data dari Perum Bulog Kanwil Sulawesi Utara, stok beras yang tersedia mencapai 21 ribu ton. Jumlah ini dinilai sudah sangat memadai untuk memenuhi kebutuhan hingga Maret 2026.
Yulius Selvanus menekankan pentingnya antisipasi terhadap cuaca ekstrem agar inflasi bahan pokok tidak terjadi. Ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga ketahanan pangan.
Upaya pemerintah daerah dalam menjaga ketersediaan pangan juga berkorelasi positif dengan pengendalian inflasi. Sulawesi Utara berhasil mencatatkan tingkat inflasi yang rendah pada tahun 2025.
Tingkat inflasi provinsi berpenduduk lebih dari 2,6 juta jiwa ini mencapai 1,23 persen pada tahun 2025. Angka tersebut menempatkan Sulut sebagai provinsi dengan inflasi terendah ketiga secara nasional.
Pencapaian ini merupakan cerminan dari efektivitas program dan gerakan yang telah dilaksanakan secara kolaboratif oleh pemerintah dan masyarakat. Stabilitas harga pangan menjadi salah satu faktor utama.
Pengendalian inflasi yang baik menunjukkan keberhasilan pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat. Ini juga mencerminkan ketahanan ekonomi daerah di tengah berbagai tantangan.
Dalam rangka mendukung swasembada pangan, Gubernur Yulius Selvanus turut serta dalam “Gerakan Tanam Padi” di Desa Solog, Kabupaten Bolaang Mongondow. Ia didampingi oleh Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan para petani setempat.
Gerakan ini mengusung tema inspiratif, yaitu “Tanam Apa yang Dimakan dan Makan Apa yang Ditanam”. Tema ini mendorong masyarakat untuk lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan.
Kegiatan penanaman padi tersebut dilaksanakan di hamparan lahan pertanian seluas 30 hektare. Dari total luasan tersebut, sekitar 28 hektare di antaranya telah selesai ditanami padi.
Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk meningkatkan produksi pangan lokal. Dengan demikian, ketergantungan pada pasokan dari luar daerah dapat berkurang secara bertahap.
