SULUT, NADAYUDHA – Kekosongan sejumlah jabatan strategis di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara memicu spekulasi luas di tengah publik. Situasi ini tidak hanya memperlambat jalannya roda pemerintahan, tetapi juga menimbulkan penilaian tajam terhadap kapasitas manajerial pimpinan daerah.
Diduga, Sorotan utama mengarah kepada Gubernur Sulut, Yulius Selvanus Komaling, yang dinilai belum mampu mengonsolidasikan birokrasi secara efektif. Ketidak jelasan arah pengisian jabatan strategis, termasuk belum dilantiknya Sekretaris Provinsi (Sekprov), memperkuat kesan lemahnya kendali atas struktur pemerintahan.
Di internal birokrasi, kondisi ini membuka ruang bagi dominasi aktor-aktor lama yang dinilai masih memiliki pengaruh kuat.
Sejumlah pihak bahkan menduga gubernur kurang mendapatkan dukungan atau justru “diarahkan” oleh lingkaran birokrat sebelumnya yang masih bercokol di pusat kekuasaan administratif.
“Ini bukan sekadar soal teknis pelantikan, tapi menyangkut arah kepemimpinan. Jika posisi kunci seperti Sekprov terus dibiarkan kosong, maka koordinasi pemerintahan akan terganggu,” ujar Jeffry Uno.
Ia menambahkan, jabatan eselon II dan III yang masih diisi oleh pelaksana tugas (Plt) semakin memperlihatkan rapuhnya fondasi birokrasi saat ini. Kondisi tersebut, menurutnya, ibarat kapal tanpa arah yang jelas, berisiko “oleng” dalam pengambilan kebijakan strategis.
Jeffry juga menekankan bahwa sejak awal masa kepemimpinan, gubernur seharusnya telah menyiapkan tim birokrasi profesional yang bersih dari kepentingan politik praktis. Tim inilah yang diharapkan mampu memberikan pertimbangan objektif dalam proses evaluasi dan penempatan pejabat.
“Seorang gubernur membutuhkan tim yang kuat dan independen, bukan sekadar loyalis. Tanpa itu, pengelolaan pemerintahan akan mudah terpengaruh dan kehilangan arah,” tegasnya.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara terkait alasan tertundanya pelantikan Sekprov maupun pengisian jabatan strategis lainnya. Namun tekanan publik diperkirakan akan terus meningkat jika ketidakpastian ini berlarut-larut.















